Minggu, 20 September 2015

Orientalisme: Budaya Ketimuran menurut Ignaz Goldziher



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada zaman keemasan Islam, para intelektual muslim telah mengadakan proses transfer ilmu pengetahuan dari berbagai peradaban. Pada saat itu, proses intelektual berjalan dengan lancar yang didukung oleh pemerintah Islam, sehingga melahirkan sarana intelektual seperti sekolah, perguruan tinggi dan perpustakaan. Hal ini menjadikan Islam maju di bidang peradaban. Di bidang sains, seperti kedokteran, matematika, astronomi, dan lain-lain seperti filsafat yang kemudian melahirkan keahlian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Pada abad  ke-13, kemajuan peradaban umat Islam mendapat perhatian oleh orang-orang Barat,  sehingga mereka berdatangan ke dunia Islam untuk belajar sains, baru kemudian mereka kembangkan. Pada abad ke kesembilan belas, dimana dunia Islam sudah mengalami kemunduran, orang-orang Barat datang lagi ke dunia Islam  yang kedua kalinya dengan membawa sains dan teknologi yang pernah mereka pelajari di dunia Islam pada abad ketiga belas setelah mereka kembangkan selama enam abad.
Meskipun dunia Islam mengalami  kemunduran dan Barat mengalami kemajuan, tetapi dunia Islam pada saat itu, masih menyimpan khasanah peradaban. Hal ini menjadikan orang-orang Barat yang memiliki sains dan teknologi tertarik untuk mengembangkan keahliannya dalam meneliti dan mengenali kembali dunia Islam, sehingga lahirlah orang Barat yang ahli di bidang ketimuran yang disebut dengan   Orientalis. Dalam perkembangannya orientalisme banyak yang mengecam karena Orientalisme memiliki tujuan untuk mengkolonialisasi bangsa Timur. Karena memiliki kecenderungan untuk mencari-cari kekurangan dalam ajaran Islam untuk memelihara kepercayaan kaum Kristen.
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini ingin mencoba membahas salah satu tokoh orientaisme, Ignaz Goldziher dengan pemikirannya dalam kajian Islam. Makalah ini dibuat secara sederhana dan tidak begitu mendalam karena keterbatasan kemampuan penyusun dengan minimnya pengetahuan dan kecakapan dalam memahami atau mengkritisi Ilmu dan tokoh tersebut.
Dengan disusunnya makalah ini, kami kelompok delapan mata kuliah “Orientalisme”, bermaksud membahas tentang pemikiran Ignaz Goldziher, dengan judul Orientalisme: Budaya Ketimuran menurut Ignaz Goldziher. Serta menjadikan makalah ini sebagai penambah wawasan bagi rekan-rekan mahasiswa-mahasiswi IAIN Tulungagung khususnya program studi FA ( Filsafat Agama ).

B.     Identifikasi Masalah
Dalam makalah ini, adapun masalah-masalah yang akan kami bahas di bab selanjutnya, adalah sebagai berikut :
1.      Siapa Ignaz Goldziher?
2.      Apa yang melatarbelakangi pemikiran Ignaz Goldziher?
3.      Apa saja pemikiran Ignaz Goldziher?

C.    Metode Penulisan
Makalah ini kami tulis berdasarkan wacana-wacana dan melalui berbagai sumber. Makalah ini dibuat pada hari selasa tanggal 08 September 2015.
Metode penulisan makalah ini berdasarkan studi pustaka (library reseach) yang kami lakukan, melalui referensi buku-buku di perpustakaan IAIN Tulung Agung dan media online di http//:www.google.com dimulai pada hari senin sampai dengan selasa, tertanggal 07 sampai 08 September 2015.

D.    Tujuan
Tujuan penulisan makalah adalah untuk menyelesaikan masalah berdasarkan identifikasi masalah di atas, yaitu :
1.      Mengetahui siapa itu Ignaz Goldziher,
2.      Mengetahui latar belakang pemikirannya,
3.      Mengetahui apa saja pemikirannya.

E.     Manfaat
Adapun harapan dengan dibuatnya makalah ini adalah dapat diterima, difahami dan bermanfaat sebagaimana mestinya, khususnya bagi :
1.      Diri sendiri
Adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah orientalisme yang dibimbing langsung oleh Bu. Ummu Iffah, S. Ag, M. Fil. I dengan harapan diteliti dan direvisi kembali sehingga dapat dijadikan referensi dan perbaikan untuk kedepannya.
2.      Orang lain
Menjadi sumber wacana baru dan untuk menambah pengetahuan tentang Orientalisme khususnya tentang paham pemikiran Ignaz Goldziher.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Ignaz Goldziher
Ignaz Goldziher lahir pada 22 juni 1850 di sebuah kota di Hongaria. Ia berasal dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh luas, tetapi tidak seperti keluarga Yahudi Eropa yang sangat fanatis saat itu. Pendidikannya dimulai dari Budaphes, kemudian melanjutkan ke Berlin pada tahun 1869, hanya satu tahun dia disana kemudian pindah ke Universitas Leipzig. Salah satu guru besar ahli ketimuran yang bertugas di Universitas tersebut adalah Fleisser, sosok orientalis yang sangat menonjol saat itu. Dia termasuk pakar filologi. Di bawah asuhannya Goldziher memperoleh gelar doctoral tingkat pertama tahun 1870 dengan topik risalah “Penafsir Taurat yang Berasal dari Tokoh Yahudi Abad Tengah”.[1]
Kemudian Ignaz Goldziher, kembali ke Budapest dan ditunjuk sebagai asisten guru besar di Universitas Budaphes, pada tahun 1872, namun dia tidak lama mengajar. Sebab dia diutus oleh kementerian ilmu pengetahuan keluar negri untuk meneruskan pendidikannya di Wina dan Leiden. Setelah itu ia di tugasi untuk melakukan ekspedisi ke kawasn Timur, dan menetap di Kairo Mesir, lalu ke Suriah dan Palestina. Selama menetap di Kairo Dia sempat bertukar kajian di Universitas Al-Azhar.
Ketika diangkat sebagai pemimpin Universitas Budaphes, dia sangat menekan kajian peradapan Arab, khususnya agama islam. Gebrakan yang dilakukan Goldziher telah melambungkan namanya di negeri asalnya. Oleh karena itu, ia dipilih sebagai anggota pertukaran akademik magara tahun 1871, kemudian menjadi anggota badan pekerja pada tahun 1892, dan menjadi salah satu ketua dari bagian yang dibentuknya pada tahun 1907.
Sebagai seorang orientalis yang gigih, ia berusaha menciptakan keresahan umat Islam dengan mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang membahayakan bagi umat Islam, seperti menggoyang kebenaran hadits Nabi Muhammad Saw, maka karya-karyanya menjadi sangat berbahaya, terutama berita  kebohongan dan kebodohan yang dapat menciptakan permusuhan terhadap Islam. Setelah mengenal biografi tokohnya secara lebih jelas, maka penulis akan menjelaskan lebih jauh mengenai pemikirannya.
Diskursus tentang otentisitas hadits merupakan salah satu hal yang sangat krusial dan kontroversial dalam studi hadits. Hal ini karena perbedaannya dengan al-Qur’an yang telah mendapatkan “garansi” akan keterpeliharaannya, sebagaimana firman Allah SWT dalam ayatnya yang berbunyi: “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” Maka secara normatif-theologis, hadits tidak mendapatkan “garansi” akan keterpeliharaannya dari Allah Swt. Ignaz Goldziher, sebagai orientalis yang kritis, tak lupa menyoroti point ini dengan menganggap negatif keberadaan hadits. Walaupun dia dikenal lebih skeptis dari pada Alois Sprenger (kritikus hadits pertama kali) dengan karyanya “Uber Das Traditionsweser Bei Dai Arabern“(1856) dan Sir William Munir dengan karyanya life of  mahomet, namun dalam beberapa hal, Goldziher mampu memberikan penilaian ataupun celaan seputar eksistensi dan validitas hadits tersebut.[2]
Pada tahun 1894 Goldziher, menjadi professor kajian bahasa semit, sejak saat itu dia hampir tidak kembali ke negerinya, tidak juga ke Budaphes, kecuali menghadiri konferensi orientalis atau memberi orasi kepada seminar-seminar di berbagai universitas asing yang mengundangnya. Golziher meninggal dunia pada 13 november 1921 di Budaphes.[3]

B.     Pemikiran Goldziher
Buku klasik pertama yang menjadi sasaran kejiannya adalah Azh-Zhahiriyyah: Madzhabuhum Wa Tarikhuhum, yang dikerjakan pada tahun 1884. Sekalipun jika di teliti dari judul yang dibahasnya hanya berhubungan dengan zhahiriyyah, tetapi pada kenyataannya sebuah pengantar yang cukup bagus memasuki kajian fiqh. Ia tidak membatasi kajiannya secara detail dan disertai dengan argumen-argumen mendasar yang melatar belakangi timbulnya madzhab-madzhab dalam fiqh. Demikian pula tentang ijma’ dan tokoh-tokoh tiap madzhab. Dikaji juga tenang korelasi antara madzhab zhahiriyyah dan madzhab lainnya. Sehingga kajiannya merupakan pengantar ke dalam kajian ushul fiqh dan fiqh nya secara holistik.[4] Selain itu dibicarakan juga tentang pertumbuhan dan perkembangan madzhab zhahiriyyah dalam kajiannya dengan masalah-masalah teologi sejak Ibn Hazm sampai dengan IbnTtaymiyyah dan Al-Maqrizi. Dalam kajian ini, Goldziher merujuk pada sumber-sumber utama dalam setiap pembahasannya
Latar belakang pemikiran yang dipakai Goldziher untuk pijakan menyimpulkan budaya ketimuran, adalah dengan mendeskripsikan kondisi sejarah orang timur sebagai berikut:[5]
1.      Orang-orang Islam berperang dengan baju Islam. Mereka membangun masjid-masjid. Tetapi di Syam mereka tidak mengetahui shalat lima waktu yang wajib itu.
2.      Orang-orang Islam itu ternyata tidak mengetahui cara-cara mengerjakan shalat, oleh karena itu tidaklah aneh bila di kalangan suku Bani Abd al-Asyal hanya terdapat seorang budak yang dapat menjadi imam.
3.      Masyarakat Islam ternyata benar-benar bodoh sekali, sampai mereka tidak paham apa yang dimaksud dengan zakat fitrah.
4.      Bangsa Arab pada saat itu belum matang dengan pemikiran Islam.
5.      Ada orang yang membaca syair di mimbar tetapi ia menyangka dirinya sedang membaca al-Qur’an.
6.      Goldziher menuturkan bahwa bimbingan resmi dan kegiatan penguasa untuk memalsukan hadits sudah ada sejak dini dalam sejarah Islam.
Ignaz Goldziher juga menuduh bahwa penelitian hadits yang dilakukan oleh ulama klasik pada kala itu tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah karena kelemahan metodenya. Hal itu dikarenakan para ulama lebih banyak menggunakan metode kritik sanad, dan kurang menggunakan metode kritik matan. Karenanya, Goldziher kemudian menawarkan metode kritik baru yaitu kritik matan saja.
Sebenarnya para ulama klasik sudah menggunakan metode kritik matan. Hanya saja apa yang dimaksud metode kritik matan oleh Goldziher itu berbeda dengan metode kritik matan yang dipakai oleh para ulama. Menurutnya, kritik matan hadits itu mencakup berbagai aspek, seperti politik, sains, sosio kultural dan lain-lain. Ia mencontohkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab shahih Bukhari, dimana menurutnya, Bukhari hanya melakukan kritik sanad dan tidak melakukan kritik matan. Sehingga tidak menutup kemungkinan dalam kitab shahih Bukhari tersebut terdapat hadits-hadits palsu.

C.    Pemikiran Ignaz Goldziher
Golzhiher menulis karangan besar yang bertalian dengan kajian hadits dengan judul dirasat islamiyah, juz pertama terbit pada tahun 1889, sedangkan juz kedua terbit pada tahun berikutnya. Pada jus pertama Goldziher membahas tentang Al-Watsaniyah Wal Al-Islam, dimana Ia memakai pendekatan baru dalam mengkaji masalah ini.[6] Goldziher tidak menggunakan metode yang umumnya dipakai olek para orientalis saat itu, seperti Wilhawzen. Menurut Goldziher pergulatan yang terjadi pada masa Arab Jahiliyah melawan semangat islam ternya tidak terbatas hanya pada kalangan bangsa Arab, tetapi juga terjadi pada seluruh bangsa yang akhirnya masuk islam. Goldziher menjelaskan bagaimana proses terjadinya pengislaman dan nilai-nilai islam yang menjadi unggulan atas tradisi Jahiliyah. Islam unggul dalam ketinggian moralnya, seperti memulyakan darah bangsa Arab. Islam menyeru pada persamaan hak, tidak ada perbedaan derajat antar manusia, islam juga menolak ketinggian seseorang dikarenakan nasabnya. Semua tergamar dari pondasi bahwa tidak ada keutamaan bangsa Arab atas non Arab kecuali takwanya.
            Sedangkan pada  juz kedua, dari karyanya inilah yang perlu diwaspadai karena karya ini sangat penting dan mengandung unsur pembelokan yang sangat berbahaya. Pada bagian bahasannya tentang hadits, Goldziher memaparkan sejarah dan perkembangan hadits serta mengungkapkan urgensi hadits bukan dalam arti sebenarnya dalam islam. Menurutnya, hadits merupakan sumber utama untuk mengetahui perbincangan politik, keagamaan, dan mistisisme dalam islam. Masalah-masalah ini terjadi sepanjang masa. Hadits dipakai sebagai senjata oleh masing-masing madzhab. Baik kelompok politik maupun paham fiqh berupaya menggunakan hadits sebagai alat untuk menguasai persoalan kehidupan di tengah umat islam. Jadi, hadits tidak digunakan sebagai alat untuk mengetahui perilaku Nabi, tetapi lebih untuk kepentingan tiap kelompok aliran, baik politik maupun keagamaan.[7]
            Goldziher menunjukkan kemahirannya di bidang perbandingan agama. Dalam koverensi agama-agama pertama yang diadakan di Paris tahun 1900 Goldziher menyampaikan makalahnya, yang kemudian dimuat pada jilid ke-43 dari majalah sejarah agama, dengan judul “Islam dan Agama Persia”. Dalam makalah itu Goldziher menyatakan untuk pertama kalinya tentang pengaruh agama terhadap kekuasaan. Buku-buku lain yang dihasilkan Goldziher adalah “Al-Mu’ammarin-nya Abi Hatim As-Sijistani” pada tahun 1899, dalam tulisannya itu Goldziher menyinggung beberapa buku berbahasa Yunani, seperti buku Lucian dan Phlegon Aus Tralles. Goldziher juga menulis pendahuluhan bagi buku “Attauhidnya Muhammad Ibn Tumart Mahdi Al-Muwahidun”, buku ini diterbitkan oleh Lucian pada tahun 1903 Al-Jazhair.
Goldziher menerbitkan sejumlah bagian dari buku Al-Mustahdhhari, yang berisi penolakan terhadap ajaran Batiniah Al-Ghozali, diterbitkan pada tahun 1916 di Leiden. Dalam pengantarnya Goldziher membahas Ijtihad dan Taklit. Akan tetapi karangan Goldziher yang paling monumental adalah Muhadarat Al-Islam (Heidelberg, 1910) dan Ittijahat Tafsir Al-Quran Inda Al-Muslimin (Leiden, 1920).[8]
            Muhadarat Fil Al-Islam membahas penilaian umum yang diberikan Goldziher tentang islam ditinjau dari berbagai aspeknya, seperti berikut:[9]
1.      Pasal pertama, membicarakan Muhammad dan islam,
2.      Pasal kedua membahas perkembangan syariat, disini dibahas sejarah hadits secara umum dan spesifikasi fiqh pada masa awal terbentuknya madzhab,
3.      Pasal ketiga membahas perkembangan ilmu kalam, dalam pasal ini di bahas tentang paham Jabariah dan Qodariah dalam Al-Quran, serta kelompok Muktazilah dan Ahlu Sunnah ditinjau dari aspek moral dan ibadah,
4.      Pasal keempat tentang Zuhud dan Tasawuf menguraikan sejarah timbulnya amistisisme dalam islam dan perkembangannya, yaitu sejak peradaban Islam berkenalan dengan Helenis dan Hindu hingga timbulnya wahdad al-wujud pada abad ketujuh Hijriah.
Dalam bagian akhir karya ini juga berbagai aliran yang terdapat terdapat dalam Islam, seperti Khawarij Syi;ah dan aliran-aliran yang muncul pada masa kontenporer seperti Wahhabiah, Bahayyah, Babiyah, dan Ahmadiyah.
            Sedangkan dalam Ittijahat Tafsir Al-Qur’an Inda Al-Muslimin, Goldziher mengulas tentang:
1.      Langakah-langkah dalam menafsirkan Al-Qur’an,
2.      Sejarah penulisan Al-Qur’an,
3.      Ragam bacaan atau Qiro’at,
4.      Latar belakang timbulnya keragaman penafsir, dan
5.      Berbagai hal yang berkaitan dengan tafsir Al-Qur’an.
Pembahasan diakhiri dengan pembicaraan kitab Tafsir Al-Kasysyaf karya Al-Zamakasyari. Pada bagian akhir di kemukakan metode-metode tafsir modern yang di pelopori oleh ulama modern yang menyatakan terbukanya kembali pintu Ijtihad. Goldziher telah berkecimpung dalam lapangan pengkajian Islam, sejarahnya, tafsir Al-Qur’an dengan cara yang professional, dan pengkajiannya yang dihasilkannya dapat digunakan oleh jutaan umat islam dalam membandingkan hasil kajiannya.  



BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Ignaz Goldziher lahir pada 22 juni 1850 di sebuah kota di Hongaria. Ia berasal dari keluarga Yahudi yang terpandang dan memiliki pengaruh luas, tetapi tidak seperti keluarga Yahudi Eropa yang sangat fanatis saat itu. Pendidikannya dimulai dari Budaphes, Ia juga pernah melakukan ekspedisi ke kawasan Timur, dan menetap di Kairo Mesir, lalu ke Suriah dan Palestina. Selama menetap di Kairo Dia sempat bertukar kajian di Universitas Al-Azhar.
Sebagai seorang orientalis yang gigih, ia berusaha menciptakan keresahan umat Islam dengan mengeluarkan pemikiran-pemikiran yang membahayakan bagi umat Islam, seperti menggoyang kebenaran hadits Nabi Muhammad Saw, maka karya-karyanya menjadi sangat berbahaya, terutama berita  kebohongan dan kebodohan yang dapat menciptakan permusuhan terhadap Islam. Setelah mengenal biografi tokohnya secara lebih jelas, maka penulis akan menjelaskan lebih jauh mengenai pemikirannya.
Goldziher menunjukkan kemahirannya di bidang perbandingan agama. Dalam koverensi agama-agama pertama yang diadakan di Paris tahun 1900 Goldziher menyampaikan makalahnya, yang kemudian dimuat pada jilid ke-43 dari majalah sejarah agama, dengan judul “Islam dan Agama Persia”.
Goldziher menerbitkan sejumlah bagian dari buku Al-Mustahdhhari, yang berisi penolakan terhadap ajaran Batiniah Al-Ghozali, diterbitkan pada tahun 1916 di Leiden. Dalam pengantarnya Goldziher membahas Ijtihad dan Taklit. Akan tetapi karangan Goldziher yang paling monumental adalah Muhadarat Al-Islam (Heidelberg, 1910) dan Ittijahat Tafsir Al-Quran Inda Al-Muslimin (Leiden, 1920).
Goldziher telah berkecimpung dalam lapangan pengkajian Islam, sejarahnya, tafsir Al-Qur’an dengan cara yang professional, dan pengkajiannya yang dihasilkannya dapat digunakan oleh jutaan umat islam dalam membandingkan hasil kajiannya.

B.     Kritik dan Saran
Adapun harapan kami adalah kritik dan saran tentang penyusunan makalah kami, agar dalam pembuatan makalah untuk selanjutnya lebih baik lagi dan dapat diterima maupun menjadi sumber wacana baru khususnya tentang Orientalisme. Terima kasih.


[1] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, Yogyakarta: LKiS, 2003, hlm.150
[2] Muhammad fatturrahman, makalah Pandangan Ignaz Goldziher, Malang: UIN Maliki pers, 2012,  hlm. 11.
[3] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, Yogyakarta: LKiS, hlm. 151.
[4] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, Yogyakarta: LKiS, 2003, hlm. 152.
[5] Ibid.,
[6] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, Yogyakarta: LKiS, 2003, hlm. 153.
[7] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, Yogyakarta: LKiS, 2003, hlm. 153.
[8] Abdurrahman Badawi, Ensiklopedi Tokoh Orientalis, Yogyakarta: LKiS, 2003, hlm. 154.
[9] Ibid.,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar