Mochammad Nor Ichsan Aqibinnasik
Rifchatul Laili
Muhammad Irfan Khoironi
Dalalah
A.
Pengertian
Dalalah
Dilalah adalah memahami sesuatu dari
sesuatu yang lain. Sesuatu yang pertama
disebut al-madhul (yang ditunjuk, diterangkan, atau diberi dalil) dan sesuatu
yang kedua disebut al-dall (penunjuk, penerang, atau yang member dalil) [1]
B.
Macam-macam
Dalalah
a.
Dalalah
Lafzhiyah, ialah tanda (dalalah) yang berupa bentuk kata, misalnya: rumah,
menunjukkan bangunan tempat tinggal yang terdiri dari dinding (papan/tembok), tiang,
atap, pintu, dan lainnya.
Dalalah lafzhiyah ada tiga macam, yaitu:
1.
Thabi’iyyah,
yaitu dalalah yang bersifat pembawan, seperti suara “aduh” (rintihan)
menunjukkan sakit.
2.
Aaqliyyah,
yaitu dalalah yang berdasarkan akal, seperti suara dalam ruangan menunjukkan
ada orang di dalamnya.
3.
Wadh’iyyah,
yaitu dalalah yang berdasarkan penetapan istilah, seperti kata uyang
menunjukkan arti yang ditetapkan bagi kata-kata itu dalam bahasa, seperti; es
teh menunjukkan teh yang diberi es.[2]
Di
dalam ilmu mantik, dalalah lafzhiyah wadh’iyyah ada tiga macam, yaitu:
1.
Dalalah
Muthabaqah, yaitu apabila maknanya sepenuhnya selaras dengan arti lengkap
(utuh)nya. Seperti makna sapi pada kalimat “ saya membeli sapi” yang
dimaksudkan sapi di sini keseluruhan sapi secara makna dan arti.
2.
Dalalah Tadhammun, yaitu apabila makna yang
dimaksudkan hanya sebagian saja dari arti penuhnya, seperti makna kata sapi
pada kalimat : saya memukul sapi” yang dimaksudkkan sapi di sini hanyalah
sebagian tubuh sapi.
3.
Dalalah
iltizam, yaitu apabila makna yang dimaksudkan adalah pengertian lain, tetapi
pengertian lain itumerupakan hal lazim yang ada pada kata tersebut, seperti
makna kata sapi pada kalimat “saya menarik sapi” pengertian sapi di sini bukan
bagian dari makna sapi sama sekali, sapi dalam kalimat ini pengertiannya adalah
tali yang merupakan kelaziman bagi sa;pi peliharaan.[3]
b.
Dalalah Ghoiru
Lafzhiyyah, yaitu petunjuk yang tidak berbentuk kata atau suara.[4]
Dalalah
ghoiru lafzhiyya ada tiga macam, yaitu:
1.
‘Aqliyah,
seperti berubah-ubahnya alam semesta menunjukkan akan ke”baru”annya.
2.
‘Adiyah,
seperti adanya/turunnya hujan menunjukkan akan adanya tetumbuhan.
3.
Wadh’iyyah,
seperti mengangguk menunjukkan “iya” dan menggeleng menunjukkan “tidak”.[5]
[1] Baihaqi, Ilmu
Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik, (Darul Ulum Press, 1996) hlm: 11-12
[2] M. Fadlil Said
An-Nadwi, Ilmu Mantiq, (Surabaya:Al-Hidayah, 2005) hlm: 13
[3] Ibid.,
hlm: 15-16
[4] Baihaqi, Ilmu
Mantik Teknik Dasar Berpikir Logik….. hlm: 13
[5] Cholil Bisri
Mustofa, Ilmu Mantik, (Rembang: Al-Maarif Percetakan Offset, 1987) hlm: 12-13